Pengertian Mudharabah, Dasar, Rukun, Syarat, Macam [Terlengkap]

Pengertian Mudharabah – Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk berusaha, termasuk melakukan kegiatan-kegiatan bisnis. Dalam kegiatan bisnis, seseorang dapat merencanakan suatu dengan sebaik-baiknya agar dapat menghasilkan sesuatu yang diharapkan, namun tidak ada seorangpun yang dapat memastikan hasilnya seratus persen. Suatu usaha, walaupun direncanakan dengan sebaik-baiknya, namun tetap mempunyai resiko untuk gagal. Faktor ketidakpastian adalah faktor yang sudah menjadi sunnatullah.

Konsep Bagi hasil, dalam menghadapi ketidakpastian merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar dari ekonomi Islam, yang dianggap dapat mendukung aspek keadilan. Keadilan merupakan aspek mendasar dalam perekonomian Islam.

Mudharabah dan musyarakah atau yang sering dikenal dengan istilah profit and loss sharing (PLS) adalah dua model perkongsian yang direkomendasikan dalam Islam karena bebas dari sistem riba. Dalam artikel ini kita akan berusaha mendiskripsikan hal-hal terkait konsep mudharabah secara lengkap

PENGERTIAN MUDHARABAH

pengertian-mudharabah
by freepik.com

Mudharabah diambil dari kata: الضَربُ فِي الأَرضِ yang artinya: “السَّفَرُ للتَّجَارَةِ” yakni: melakukan perjalanan untuk berdagang. Mudharabah dalam bahasa Arab juga berasal dari kata: ضَارَبَ , yang sinonimnya: اِتَّجَرَ, seperti dalam kalimat: ضَارَبَ لِفُلَانِ فِي مَا لِهِ yang artinya: اِتَّجَرَ لَهُ فِيهِ yakni: ia memberikan modal berdagang untuk si fulan.

Istilah Mudharabah dengan dengan pengertian untuk berdagang digunakan oleh penduduk Irak. Sedangkan penduduk Hijaz menggunakan istilah qiradh yang artinya: القَطْعُ yakni memotong. Dinamakan demikian, karena pemilik modal memotong sebagian dari hartanya untuk diperdagangkan oleh ‘amil dan memotong dari sebagian keuntungannya.

Dalam pengertian istilah, Wahbah Zuhaili mendefinisikan mudharabah sebagai berikut.

هِيَ أَنْ يَدْ فَعَ الْمَا لِككُ إِلَى الْعَامِلِ مَالًا لِيَتَّجِرَ فِيْهِ وَيَكُوْنَ الرِّبْحُ مُشْتَرَكًا بَيْنَهُمَا بِحَسَبِ مَا شَرَ طَا

“Mudharabah adalah akad penyerahan modal oleh si pemilik kepada pengelola untuk di perdagangkan dan keuntungan dimiliki bersama antara keduanya sesuai dengan persyaratan yang mereka buat.”

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa mudharabah adalah suatu akad atau perjanjian antara dua orang atau lebih, dimana pihak pertama memberikan modal usaha, sedangkan pihak lain menyediakan tenaga dan keahlian, dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi diantara mereka sesuai dengan kesepakatan yang mereka tetapkan bersama.

Dengan kata lain bahwa mudharabah ini adalah kerja sama antara modal dengan tenaga atau keahlian dan juga terdapat unsur kepemilikan bersama dalam keuntungan. Namun dalam mudharabah, apabila terjadi kerugian maka pemilik modal yang dibebankan kerugian tersebut, sedangkan pengelola tidak dibebankan, karena ia telah rugi tenaga tanpa keuntungan. Oleh karena itu, beberapa ulama memasukkan mudharabah ke dalam salah satu jenis syirkah (kerja sama).

Baca Juga: Baca Juga Pengertian Pidato

DASAR HUKUM MUDHARABAH

dasar-hukum-mudharabah
by jakarta.tribunnews.com

Para ulama Mazhab sepakat bahwa mudharabah hukumnya dibolehkan berdasarkan Al-qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

Al-Qur’an

Surah Al-Muzammil ayat 20.
وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Dan orang-orang yang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah.”

Sunnah

Hadis yang diriwayatkan oleh Shuhaib

عَنْ صُهَيْب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ثَلَا ثٌ فِيْهِنَّ الْبَرْكَةُ : اَلْبَيْعُ إِلَى أَجَلٍ وَالْمُقَارَ ضَةُ وَخَلْطُ الْبُرِّ بِا الشَّعِيْرِ لِلْبَيْتِ لَا لِلْبَيْعِ

“Dari Shuhaib r.a bahwa Nabi Muhammad SAW. Bersabda: ada tiga perkara yang di dalamnya terdapat keberkahan: (1) jual beli tempo, (2) muqaradah (3)mencampur gandum dengan jagung untuk makanan dirumah bukan untuk dijual.(H.R. Ibnu Majah)”

Hadis yang diriwayatkan Imam Malik

عَنِ الْعَلَاءَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّ هِ : أنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّان أَعْطَاهُ مَالًا قِرَاضًا يَعْمَلُ فِيْهِ عَلَى أَنَّ الرِّبْحَ بَيْنَهُمَا

“Dari ‘Ala’ bin Abdurrahman dari ayahnya dari kakeknya bahwa Utsman bin Affan memberinya harta dengan cara qiradh yang dikelolanya, dengan ketentuan keuntungan dibagi diantara mereka berdua.” (H.R. Imam Malik)

Ijma’

Adapun dalil dari ijma’, yaitu pada zaman sahabat sendiri banyak para sahabat yang melakukan akad mudharabah dengan cara memberikan harta anak yatim sebagai modal kepada pihaka lain, seperti Umar, Usman, Ali, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amir, dan Siti Aisyah. Tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa para sahabat lain mengingkarinya. Oleh karena itu, hal itu dapat disebut ijma’.

Qiyas

Adapun dalil dari qiyas adalah bahwa mudharabah di-qiyaskan kepada akad musaqah, karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan dalam realita kehidupan sehari-hari, manusia ada yang kaya da nada yang miskin. Kadang-kadang ada orang kaya yang memiliki harta, tetapi ia tidak memiliki keahlian untuk berdagang, sedangkan di pihak lain ada orang yang memiliki keahlian berdagang, tetapi ia tidak memiliki harta (modal). Dengan adanya kerja sama antara kedua pihak tersebut, maka kebutuhan masing-masing bisa dipadukan, sehingga menghasilkan keuntungan.

RUKUN MUDHARABAH

Rukun akad mudharabah menurut hanafiyah adalah ijab dan qabul, dengan menggunakan lafadz yang menunjukkan kepada arti mudharabah. Lafal yang digunakan untuk ijab adalah lafal mudharabah, muqaradah, dan muamalah, serta lafal-lafal lain yang artinya sama dengan lafal-lafal tersebut.
Menurut jumhur ulama, rukun mudharabah ada tiga, yaitu

  • ‘aqid, yaitu pemilik modal dan pengelola (‘amil/mudharib)
  • Ma’qud ‘alaih, yaitu modal, tenaga (pekerjaan), dan keuntungan, dan
  • Shigat, yaitu ijab dan qabul.

Sedangkan menurut Syafi’iyah lebih terperinci mengenai rukun mudharabah, terdapat lima rukun mudharabah, yaitu

  • Modal
  • Tenaga (pekerjaan)
  • Keuntungan
  • Shigat
  • ‘aqidain

SYARAT- SYARAT MUDHARABAH

syarat-mudharabah
by Rizky Ananda – wrodpress.com

Syarat yang berkaitan dengan ‘Aqid

Adapun syarat- syarat yang berkaitan dengan aqid adalah bahwa aqid baik pemilik modal maupun pengelola (mudharib) harus orang yang memiliki kecakapan untuk memberikan kuasa dan melaksanakan wakalah. Hal itu dikarenakan mudharib melakukan tasarruf atas perintah pemilik modal, dan ini mengandung arti pemberian kuasa. Akan tetapi, tidak disyaratkan aqidain harus muslim. Dengan demikian, mudharabah bisa dilaksanakan antara muslim dan dzimmi atau musta’man yang ada di negeri islam. Di samping itu juga disyaratkan harus cakap melakukan tasarruf. Oleh karena itu, mudharabah tidak sah dilakukan oleh anak yang masih di bawah umur, orang gila, atau orang yang di paksa.

Syarat yang berkaitan dengan modal

  • modal harus berupa uang tunai, sebagaimana halnya yang berlaku dalam syirkah ‘inan. Apabila modal berbentuk barang, baik tetap maupun bergerak, menurut jumhur ulama mudharabah tidak sah. Akan tetapi, imam ibnu Abi Layla dan Auza’I membolehkan akad mudharabah dengan akad barang. Alasan jumhur ulama tidak membolehkan mudharabah berupa barang karena akan ada unsur penipuan (gharar) disebabkan pembagian keuntungan yang tidak jelas sehingga akan menimbulkan perselisihan diantara pemilik modal dan pengelola. Akan tetapi apabila barang tersebut di jual dan uang hasil penjualan tersebut dijadikan untuk modal, maka Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad membolehkan karena modal tidak berbentuk barang lagi melainkan uang hasil penjualan. Namun, menurut madzhab Syafi’I hal itu tetap tidak boleh karena dianggap tetap ada ketidakjelasan dalam modal.
  • Modal harus jelas diketahui ukurannya. Apabila modal tidak jelas maka mudharabah tidak sah.
  • Modal harus ada dan tidak boleh berupa utang, tetapi tidak berarti harus ada di majelis akad.
  • Modal harus diserahkan kepada pengelola, agar dapat digunakan untuk kegiatan usaha. Hal ini dikarenakanmodal tersebut merupakan amanah yang berada di tangan pengelola.

Syarat yang Berkaitan dengan Keuntungan

  • Keuntungan harus diketahui kadarnya . Tujuan diadakannya akad mudharabah adalah untuk memperoleh keuntungan. Apabila keuntungannya tidak jelas maka akibatnya akad mudharabah bisa menjadi fasid. Apabila seseorang menyerahkan modal kepada pengelola dengan ketentuan mereka bersekutu dalam keuntungan, maka akad semacam ini hukumnya itu sah, dan keuntungan dibagi rata setengah setengah.
    Apabila dibuat syarat yang menyebabkan ketidakjelasan dalam keuntungan maka mudharabah menjadi fasid, karena tujuan akad yaitu keuntungan tidak tercapai. Akan tetapi, jika syarat tersebut tidak menyebabkan keuntungan itu menjadi tidak jelas, maka syarat tersebut batal, tetapi akaddnya tetap sah.
  • Keuntungan harus merupakan bagian yang dimiliki bersama dengan pembagian secara nisbah atau persentase, misalnya setengah setengah, sepertiga dan dua pertiga, atau 40% : 60%, 35% : 65%, dan seterusnya. Apabila keuntungan dibagi dengan ketentuan nominal yang pasti, misalnya pemilik mendapatkan Rp100.000 dan sisanya untuk pengelola (mudharib) maka syarat tersebut tidak sah, dan mudharabah menjadi fasid.

MACAM- MACAM MUDHARABAH

macam-mudharabah
by diskusiguru.com

Mudharabah muthlaq

Mudharabah muthlaq adalah akad mudharabah dimana pemilik modak memberikan modal kepada pengelola tanpa disertai dengan pembatasan. Di dalam akadnya tidak ada pembatasan atau ketentuan mengenai tempat kegiatan usaha, jenis usaha, barang yang dijadikan objek usaha, dan ketentuan-ketentuan yang lain.

Mudharabah Muqayyad

Mudharabah muqayyad adalah suatu akad mudharabah dimana pemilik modal memberikan ketentuan atau batasan-batasan yang berkaitan denga tempat kegiatan usaha, jenis usaha, barang yang menjadi objek usaha, waktu dan dari siapa barang itu dibeli. Menurut jumhur ulama tidak boleh mudharabah ditentukan batas waktunya, sedangkan menurut imam Abu Hanifah hal tersebut dibolehkan.

BERAKHIRNYA AKAD MUDHARABAH

Pembatalan, larangan berusaha (tasarruf), dan pemecatan

Mudharabah dapat batal karena dibatalkan oleh para pihak, dihentikan kegiatannya, atau diberhentikan oleh pemilik modal

Meninggalnya salah satu pihak

Menurut jumhur ulama apabila salah satu darri pihak baik pemilik modal maupun pengelola meninggal dunia maka mudharabah tersebut menjadi batal, karena dalam mudharabah terkandung unsur wakalah, dan wakalah batal apabila meninggalnya orang mewakilkan atau wakil. Sedangkan menurut malikiyah mudharabahnya tidak batal karena ahli waris bisa menggantikan untuk melaksanakan kegiatan usaha tersebut, dengan syarat sang ahli waris orang yang dapat dipercaya.

Salah satu pihak gila

Menurut jumhur ulama selain Syafi’iyah apabila seseorang terserang atau menjadi gila, maka mudharabahnya menjadi batal karena gila menghilangkan kecakapan.

Pemilik modal murtad

Apabila pemilik modal modal murtad atau terbunuh dalam keadaan murtad, atau tergabung dengan musuh serta telah diputuskan oleh hakim atas pembelotannya. Menurut imam Abu Hanifah, hal itu membatalkan mudharabah, sebab tergabung dengan musuh sama saja dengan mati. Hal itu menghilangkan keahlian dalam kepemilikan harta dengan dalil bahwa harta murtad itu dibagikan diantara para ahli warisnya. Akan tetapi apabila oengelola yang murtad maka akad mudharabah tetap berlaku karena ia memiliki kecakapan (ahliyah).

Harta mudharabah rusak di tangan mudharib

Apabila modal rusak atau hilang ditangan mudharib sebelum ia membeli sesuatu maka mudharabah menjadi batal. Hal tersebut dikarenakan sudah jelas modal telah diterima oleh mudharib untuk kepentingan akad mudharabah. Dengan demikian, akad mudharanbah menjadi batal karena modalnya rusak atau hilang. Demikian pula halnya apabila modal tersebut oleh mudharib diberikan kepada orang lain atau dihabiskansehingga tidak ada sedikitpun untuk dibelanjakan.

MANFAAT DAN RESIKO MUDHARABAH

MANFAAT MUDHARABAH

  • Mendapatkan pahala yang besar dari Allah, karena ia telah menjadi penyebab lenyapnya kemiskinan. Karena, adanya kerja sama anata orang-orang kaya sebagai pemilik modal dan orang miskin sebagai pengelola. kalau tanpa adanya kerja sama tersebut maka orang-orang miskin tersebut akan tetap dalam keadaan kemiskinan. Tetapi orang miskin tersebut harus pandai bekerja agar keduanya bisa saling bertukar kepentingan dan kerja sama tersebut saling menguntungkan keduanya.
  • Berkembangnya harta dan semakin banyaknya kekayaan akibat dari pengembangan bisnis tersebut yang dilakukan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

RESIKO MUDHARABAH

  • Perselisihan dalam tasarruf
  • Perselisihan dalam kerusakan harta
  • Perselisihan dalam pengembalian modal
  • Perselisihan dalam besarnya modal
  • Perselisihan dalam kadar besarnya keuntungan

Pengertian Mudharabah

Categories EDUKASI